Powered by Blogger.

Popular Posts

RSS

Cerpen menarik !! ^_^


Asrama Berbuah Cinta   

  Iqbal, panggilan sapaan untuk seorang atlet asal Palembang yang melanjutkan sekolah ke Jogja. Sorot matanya yang tajam, senyuman manisnya, tubuhnya yang  tinggi dan gagah yang membuat banyak teman sekolahnya mendekatinya. Tak hanya sebagai pebulutangkis handal, ternyata di SMA nya ia juga sebagai ketua Osis di salah satu SMA di Jogja dan bahkan ia juga lolos seleksi Paskib di Regional Wilayahnya, Hebat bukan. Suatu ketika,
Iqbal dipertemukan disuatu acara Dinas dengan Tomy yang kini menjadi sahabatnya. Setelah adanya acara dari dinas, Tomy dan Iqbal ditarik dari Dinas untuk diasramakan dan homeschooling kan. Tomy dan Iqbal bisa dibilang si kembarlah, mungkin gara-gara seasrama dan sekamar bahkan ketika ada panggilan dinas  saja harus mereka yang diberangkatkan. 

  Seketika, Dikpora DIY mengadakan acara Perhelatan Atlet DIY, disanalah mereka bertemu dan berkenalan oleh perempuan yang senantiasa menonton Tomy dan Iqbal ketika bertanding, ialah Azizah. Perempuan cantik dan anggun ini sangat fanatik dengan bulutangkis sekaligus anak pemilik AAPI (Asrama Akademik Pebulutangkis Indonesia). Apalagi kalau yang lagi tanding Iqbal atau Tomy, bergegas dia memburu tiket dan menonton. Tomy dan Iqbal awalnya tak tau kalau dia adalah anak Pimpinan AAPI dan meraka punya rasa yang biasa saja dengan gadis cantik itu. Namun, entah mengapa Tuhan memberikan anugrah pada mereka dengan rasa cinta pada Azazah. Mungkin aja,  sesama pebulutangkis saling 
mengerti kesibukan masing-masing ketika harus tanding diberbeda daerah. Namun, mereka tak ada niat untuk memutuskan dan merusak persahabatan mereka, mereka punya suatu tekat bersama.     
  Siapa yang bisa mengikuti Kejurnas, dialah yang berhak mendekati Azizah. Disinilah motivasi yang ada diantara mereka
Larutnya malam dan letih tubuh terasa masih ada, sehabis mereka pulang latihan di GOR asrama mereka. Suasana itu, membawa mereka dalam percakapan tentang perempuan cantik itu, Azizah. Setelah bergantian mandi, Mereka berbaring dimasing-masing kasur mereka dalam satu kamar.
“Menurutmu azizah tuh gimana sih tom?” Tanya Iqbal.
“Ehmm... gimana ya? Jawab jujur atau bohong nih? hahaha” Jawab Tomy tersenyum.
“Jujur dong tom, kita kan sahabatan so kalo bisa kita saling terbuka” Iqbal menyela
“Haha oke deh mas atlet, dia sangat simpatik sama kita, perhatian lagipula....”
“Lu nih lagipula apa sih? Huuu...”
“Udah ahh capek nih, tidur aja deh, dah ya.. Goodnight bro...”
“Huh gimana sih ni orang, hah semoga aja dia gak tau kalo aku besok harus ke Pangkalpinang dan semoga aja Azizah ikut kesana juga” Gerutu Iqbal.
(Padahal Tomy belum tidur dan dia mendengarkan ucapan sahabatnya itu. Sedikit kesal dan dongkol dihatinya pada Iqbal karna tak mau terbuka padanya.)
Keesokan harinya, tepat jam 7 pagi, ketika kumpul bersama di GOR, Iqbal berpamitan pada semua anggota asrama. Tomy hanya mengantarkan Iqbal dari kamar menuju GOR dan masalah tadi malem itu masih nyesek dihati Tomy dan ia tinggalkan iqbal didepan pintu GOR. Tomy lebih baik menenangkan dirinya di tempat biasa mereka berdua meluapkan segala isi hati kedua sahabat itu, Pinggir danau belakang asrama.
“Saya mohon do’anya, saya akan berangkat ke Pangkalpinang pagi ini bersama Azizah dan TIM” Harap Iqbal pada semuanya.
“Iya, semoga sukses disana ya mas bro...” Sahut si Officeboy Asrama.
(Sebut saja Officeboy asrama itu Gandrung tapi sering dipanggil Aru sih)
“iya makasih nggeh” Iqbal kebingungan. Dalam hati iqbal dia kebingungan, sepertinya sahabatnya tadi pagi bersamanya menuju GOR dan sekarang entah kemana. “Kemana ya si tomy?” Bertanya dalam hatinya.
Iqbal tak menggubris semua yang ada dihatinya, ia pun berangkat ke Bandara menuju Pangkalpinang. Siang harinya, Pak Sigit si Pimpinan Asrama mendapat surat Asean harus mengirim seorang pebulutangkais handal Indonesia. Beliau bingung siapa yang harus diberangkatkan. Harapan pak Sigit hanyalah Tomy. Beliau menghampiri Tomy dikelasnya.
“Permisi pak, saya mau bertemu Tomy” Izin Pak Sigit pada guru kelas.
“Iya silahkan pak,  Ayo Tom pak Sigit mau ketemu kamu”
“Iya ada apa ya pak sigit?” Tanyanya dengan keheranan.
“Gini tom, hari ini ada surat Asean untuk mengirim satu pebulutangkis ke Bangkok ikut Perwakilan Indonesia. Kamu bersadia ikut? Besok pagi kamu berangkat” Penjelasan dari Pak Sigit.
“Insyaallah saya bisa pak. Apa saja persyaratannya pak?”
“Tenang saja saya urus semuannya, kamu tinggal berangkat aja besok, yaudah belajar lagi sana. Makasih nak”
“Iya pak, terimakasih kembali”
Malam itu adalah malam terakhir Tomy di Indonesia, tak sempat mengabari Iqbal. Bahkan Tomy tak enak hanti punya rasa dongkol terhadapnya. Perpisahan jarak dan komunikasi pun terjadi lebih lama. Tenyata disana, Tomy disekolahkan disalah satu SMA di Bangkok.
--))0((--
Tigapuluh hari dari kepergian Tomy ke Bangkok, Iqbal membawa banyak hasil dan kado buat Tomy. Sesampainya di asrama tujuan pertama adalah tomy. Sebagai sahabat, baginya tomy-lah seperti kakaknya sendiri.
“Tomm..... Tomm.....” memanggil tomy dan menggedor pintu kamar.
“Mas tomynya pergi mas broo” kata Aru.
“Pergi? Gak mungkin dia kan harus sekolah sekarang? Aku ke kelas dulu ya mas nitip tasku tolong dimasukin ke kamar, makasih” Ucap Iqbal sampil lari menuju kelas.
      Sesampainya didepan pintu, ia melihat bangku utama depan meja guru, ternyata kosong. Ia kembali ke kamarnya dan duduk di ranjang milik Tomy. Disana ada sehelai kertas bertuliskan

Iqbal, maaf aku harus pergi mungkin aku tak tau kapan aku kembali lagi. aku ke Bangkok, pesanku jaga dek azizah dan tingkatkan prestasimu ya,
Wassalam.
 Tomy Nofianto

. Terteteslah airmatanya ketika membaca sepucuk kertas terakhir dari sahabatnya itu. Ia dapat memakluminya karena di asramanya tak boleh satupun anggota asrama bawa hape, ya pakailah sehelai kertas itu. 
“Ini ujian buat kita tomm.. buat persahabatan kita, gue akan tunggu lu balik ke Indonesia lagi” Tangis didalam hatinya.
Beberapa hari kemudian, ia merasa hidup sendiri walau sekolah ada temen-temennya. Mungkin hati dia telah salud dengan Tomy tapi ia tek rela kehilangan. Ia lakukan sendiri kegiatan dia tanpa seorang teman dekat bahkan kakak disisinya.
--))o((--
Asrama AAPI,
Azizah sedang berjalan menyelusuri lorong menuju kantor ayahnya. Disana ia banyak berfikir banyak tentang perasaannya.
“Ayah... Bolehkah Azizah masuk?”
“Iya nak, masuklah?”
“Yah, Azizah ingin bercerita sama ayah, tentang semua yang Azizah rasakan yah.”
“Iya, ceritakan pada ayah nak.”
“Begini yah, Azizah suka sayang bahkan cinta sama mas Tomy. Azizah bingung yah kenapa Azizah malah nyaman bersama mas Iqbal. Azizah ndak tau lagi yah? Sekarang mas Tomy udah jauh ninggalin Azizah di sini. Harapan Azizah dy bisa pulang ke Jogja lagi yah?”
“Ayah tak tau tentang hal itu, Ayah pikir kamu suka, sayang dan cinta pada Iqbal? Karena kamu selalu nemenin dy ketika dia ada tanding?”
“Iya memang aku nyaman dengan dia tapi entah hatiku tak tertuju padanya?”
Usai perbincangan itu, Azizah masih meragu. Azizah sering diajak Iqbal jalan-jalan ditaman, Gowes bareng temen-temen atlet, Dinner bareng danlainnya. Hari itu berlalu, telah berganti tahun. Iqbal memberanikan diri untuk mengungkapkan rasanya pada Azizah, tanpa sepengetahuan sahabatnya. Ketika itu, ada latian yang biasa ia lakkukan tiap seminggu limakali, di GOR belakang asrama. Malam itu Azizah dipertemukan dengan Iqbal di tempat itu. Sehabis latihan, Iqbal menghampiri Azizah dan ngobrol bareng di tribun bawah.
“Zah, aku boleh ngomong sesuatu sama kamu?” Tanyanya dengan canggung.
“Iya mas?!”
“Jujur ya, sebenernya aku suka sama kamu... aku sayang kamu”
Iqbal lari kebawah dan teriak disana “Akuuuuu sayaaaaaaang Azizaaaaaaaaaahhh.....” semua orang tercengang disana. Semua sorot mata tertuju pada Iqbal. Dan Iqbal hanya tersenyum nyengir dihadapan semuanya. Azizah tersenyum.
“Jadian... jadian... jadian... jadian...” Dukungan teman asramanya.
“ah apaan sih kalian, hehe” sahut Azizah sambil lari keluar pagar tribun menuju kebawah.
Azizah menghampiri iqbal dan berkata “Maaf aku tak bisa...” kemudian Azizah pergi meninggalkannya ditengah lapangan sendirian. Semua teman asrama kembali menuju asrama dan menikmati malam-malam mereka bersama temen kamarnya. Sedangkan Iqbal, ditangal lapangan bulutangkis sendirian dan merasakan perihnya ditolak cewe yang dia idamkan dan kehilangan seorang sahabat yang pergi meninggalkannya.
Iqbal LULUS UN SMA, kemudian ia menjadi seorang Altet dan hanya bisa manunggu Tomy pulang ke Jogja lagi. Iqbal melanjutkan sekolah di UNY, Jurusan Kesehatan. Ia akan jadi guru Olahraga dan atlet. Walaupun di Asrama ada juga yang perempuan, namun yak sedikitpun ia tertarik. Azizah pun juga Kuliah di UGM, Kedokteran Umum.
--))O((--
Bangkok, Thailand
 Anestya Rahmah. Tomy mengenalnya ketika ia naik lift bersama di asrama tempet mereka sekolah bersama, cewe blasteran Indo Singapur ini kiriman anak Olimpiade Matematika dari Singapura. Tomy merasa aneh aja, ketika satu asrama dengan anak cerdas sepertinya. Tapi memang benar, dalam satu lantai, ia mengenal teman dari Vietnam, Singapur dan Laos dan ia pikir anak Indonesia hanya ada dia. Padahal dari negara lain ada beberapa Atlet dan anak Olimpiade untuk perwakilan  beberapa kontingen. Tomy satu kamar dengan Gumsond, pemuda asal Vietnam seorang atlet judo. Badanya tinggi tegak, kekar dan ternyata dia sangat ramah. Tomy temukan sahabat baru, itulah dia. Tinggal 5hari lagi di Bangkok, Semua pererta diperbolehkan mengelilingi Bangkok Sepuasnya.
“Tomy, if today you have plans? I happen to want invites you walk together rahma? how?”
(apakah hari ini kamu ada acara? kebetulan aku pengen ngajak kamu jalan-jalan sama rahma? gimana?) Sambil memakai baju hem rapi dan keren.

“Oo Yeah .. I do not have plans to go today, I do not know the tour here. Are we going?”
(Oo Yeah.. aku tidak ada rencana pergi hari ini, aku tak tau wisata di sini. Memangnya kita mau kemana?) Tanya Tomy sambil mematikan tv

“Yes, just walk alone. maybe we can while looking for attractions?”
(Mungkin kita bisa sambil mencari dan sembari berjalan-jalan?)

“Okay waiting for me? Hmm Have you let Rahma with this?”
(Okay tunggu aku, hmm sudahkah kamu kabari rahma dengan hal ini?) Tanya Tomy.

“Already. Includes change your clothes and be prepared to keep us off” (Udah, buruan kamu ganti baju dan kita berangkat)
Kemudian mereka menunggu Rahma didepan FO Asrama. Rencana mereka main bersama telah berjalan dihari itu. Setelah yang mereka tunggu datang, mereka memulai perjalanan mereka mengelilingi Bangkok.  Senang dan seru mereka rasakan bersama. Dengan  bidikan karena mereka jadikan kenang-kenangan pengalaman mereka.
Tomy merasakan adanya ketidaksanggupan untuk meninggalkan itu semua karna telah cukup lama bersama orang-orang terkasihnya. Hari terakhir, semua peserta diminta untuk foto bersama, yaa untuk kenang-kenangan. Dan dihari terakhir itu ia merasakan bahwa dihatinya ada rasa terhadap Rahma. Tak disangka ketika Tomy akan menuju lift ketemu Rahma lagi.
“Mungkinkah? Ini hari terakhir aku ketemu kamu?”
“Mungkin iya Tom?” Heran Rahma.
“Tapi...?”
“Tapi apa tom??” Heran Rahma lagi.
“Sudahlah tak apa. Oh iya nanti sebelum kita menuju bandara, kita ketemu di phafilium atas ya. Ada yang mau aku omongin ke kamu maa” Harap Tomy.
“Iya tom aku temui nanti... tapi mengapa haris disana?”
“Ahh sudah nanti kita disana, ayo kita sudah telat”
Waktu makin menunjukan pukul 8malam, dan waktu mereka pulang jam 10malam setelah makan malam. Tomy menuju Lift dan kelantai atas. Rahma pun juga.
“Rahma....”
   “Iya Tomm...”
“Aku mau ngomong sama kamu”
“Iya ngomong aja” Jawab rahma dengan menundukan kepalanya.
“Rahma, selama 8tahun kita disini , kita kenal, saling mengerti dan aku ada salah sama kamu aku minta maaf ya?  Dengan kata mau pun perbuatan.”
   “Iya tom, sama sama ya, akupun begitu. Aku rasa aku tak ingin berpisah dengan ini.”
   “Yaaa benar... aku tak sanggup kita berpisah, aku tak sanggup. Karna aku sayang dan karna aku cinta padamu Rahma.”
Tercengang Rahma mendengar perkataan Tomy. Rahma hanya tersenyum dan menatap mata Tomy.
“Rahma, tolong jawab, apakah kamu juga menyayangi dan mencintaiku?”
Rahma hanya bisa tersenyum dan menganggukan kepala. Tomy memeluknya dan hatinya terasa lega. Tak ada dipikiran dia bahwa beberapa jam lagi mereka harus berpisah. Waktu menunjukan pukul 10malam, semua peserta dilepaskan menyandang S3 cumload dari Asrama tersebut. Tomy berpisah dengan Gumsond dan salam persahabatan dengannya. Ternyata Tomy dan Rahma satu perawat yang akan landing di Indonesia tepatnya di Jogja. Mereka duduk berdua.
“Tom, bolehkah aku ikut ke asramamu di Jogja?”
“Apa? Kamu mau ikut kesana? Boleh saja.”
“Yess... aku akan ikut tinggal disana.”
Rahma dan Tomy sudah sah berpacaran, dan Tomy berencana akan melamar Rahma di Asrama. Tapi masih perlu pertimbangan orangtua Rahma di Singapur. Sesampainya di Indonesia, Rahma dibawa ke Asrama AAPI dengan seizin Ayahnya Azizah.  Tapi tak ada seorangpun yang tau kalau itu pacarnya Tomy.
--))O((--
Asrama AAPI, Jogja.
Keesokan harinya, Hari Rabu itu adalah tepat 8tahun Tomy meninggalkan Indonesia untuk di Bangkok. Iqbal hanya mampu meratapi kesendiriannya dengan danau belakang asrama itu. Itu tampat kenangan dimana mareka berdua selalu mencurahkan semua hatinya. Dan Iqbal selalu membaca surat dari Tomy itu.
“hmm... hmm... hmm... ngapain mas bro disini??” Sahut Tomy dengan nada OB yang biasa dengan Iqbal.
Pandangan Iqbal masih kedepan menuju danau, tak mengubris dibelakangnya. “Gak tau mas ini, aku udah kehilangan semuanya ni kayaknya.”
“Memang siapa masbroo?”
“Ya Dek Azizah too sama sii Tomy. Siapa lagi kalo bukan mereka yang tak miliki.”
“Oooo... Aku tho masbro?”
“bukan...” Iqbal menjawab dan menengok.
“Kangen ndak kau ma aku, hahaha” Tanya Tomy dengan mendekati dan memeluknya.
“Heh kau, tak sopan laa yaa pura-puraa”
“Haha pembukaan dong gakpapa kan?” sahut Tomy.
Sembari mereka berbincang-bincang dijalan menuju kamar mereka, Iqbal bercerita apa saja yang terjadi ketika Tomy tak di Indonesia. Tomy hanya diam dan menjawab sekedarnya saja ketika Iqbal panjang lebar menceritakan kisahnya dengan Dek Azizah.
“Broo.. aku kemaren sempet menyatakan perasaanku ke dek Azizah, tapi dia nokal gak mau menjalin hubungan sama aku. Aku kurang apa sih? Menurutmu gimana bro?” Curcol Iqbal padanya.
“Mungkin di malu sama kamu?” singkat Tomy.
“Hah malu kenapa? Tiap aku ada tanding, dia selalu sama aku waktu di Pangkalpinang?”
“Hmm entah tak tau aku? Aku mandi dulu yaa broo... bauk nih?”
“Kebiasaan lu tom.. kalo masalah cewe cuek banget?” Gerutu Iqbal ditinggal Tomy mandi.
Tiba waktu malam hari, disana diadakan pesta penyambutan kedatangan Tomy. Bisa dibilang meriah dan unik lah. Biasanya kalau ada pesta kebun kayak gitu pakaiannya kan menyesuaikan, tapi ini beda. Pakaiannya pakaian Jawa seperti mau ada hajatan. Ketika itu si Iqbal ketemu sama Aru yang biasa ngelayanin kebutuhan dia.
“Kok modelnya baju kayak gini semua sih? Apa-apaan ini? Adaa apa ini?” Tanyanya.
“hahaha masbroo ndak tau tho?”
“Tau tentang apa?”
“lihat saja nanti masbroo....”
      Acara itu kini dimulai, Pak Pemilik Asrama AAPI yang memulai acara itu. Tomy kemudian mengajak Rahma kedepan dan memperkenalkannya kepada semua hadirin.
“Selamat malam, ini Rahma calon Istri saya sekarang saya beranikan diri untuk melamarnya. Dan yang disana adalah Papa Mama dari Rahma.”
      “Saya Anestya Rahmah, Saya Calon istrinya Tomy.”
“Hah apaaaa....!!!” Azizah terkejut. Lari dan menangis menuju danau. Kemudian disusul oleh Iqbal.
“Sudah dek, tak usah menangis. Mungkin adek mencintainya tapi apabila mereka lebih bahagia bukanlah adek juga akan bahagia melihat mereka bahagia dengan cinta mereka?” Bujuk Iqbal.
“Iya sih mas, tapi ini gak adil. Aku udah nunggu delapan tahun bersama kenyamannan mas tapi apa hasilnya? menyakitkan” Tangis Azizah.
Malam itu Rahma telah dilamar oleh Tomy dan segera melangsungkan pernikahan. Hari berganti namun sakit makin menyayat hati. Azizah mulai belajar untuk mencintai Iqbal dengan tulus sebagai mana Iqbal mencintainya.
3Minggu Kemudian...
Tepat dimoment yang sama, Rahma dan Tomy menikah dan Iqbal melamar Azizah. Sampai sekarang mereka saling menyayangi. Saling membangun kasih sayang yang begitu kokoh. Tomy mempunyai usaha dan banyak saham serta perusahaan Sawit di Sumatra. Tomy meninggalkan Jogja dan membentuk keliarga kecil dengaan 2 orang anak. Sedangkan Iqbal dan Azizah akan melangsungkan pernikahan dan pindah ke Pangkalpinang. Semoga hidup mereka akan manjadi bahagia dan penuh cinta. J

“Hanya meminjam nama, bukan berarti ini berharap menjadi nyata.”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment