Asrama Berbuah Cinta
Iqbal, panggilan sapaan untuk seorang atlet asal Palembang yang melanjutkan sekolah ke Jogja. Sorot matanya yang tajam, senyuman manisnya, tubuhnya yang tinggi dan gagah yang membuat banyak teman sekolahnya mendekatinya. Tak hanya sebagai pebulutangkis handal, ternyata di SMA nya ia juga sebagai ketua Osis di salah satu SMA di Jogja dan bahkan ia juga lolos seleksi Paskib di Regional Wilayahnya, Hebat bukan. Suatu ketika,
Iqbal dipertemukan disuatu acara Dinas dengan Tomy yang kini menjadi sahabatnya. Setelah adanya acara dari dinas, Tomy dan Iqbal ditarik dari Dinas untuk diasramakan dan homeschooling kan. Tomy dan Iqbal bisa dibilang si kembarlah, mungkin gara-gara seasrama dan sekamar bahkan ketika ada panggilan dinas saja harus mereka yang diberangkatkan.
Seketika, Dikpora DIY mengadakan acara Perhelatan Atlet DIY, disanalah mereka bertemu dan berkenalan oleh perempuan yang senantiasa menonton Tomy dan Iqbal ketika bertanding, ialah Azizah. Perempuan cantik dan anggun ini sangat fanatik dengan bulutangkis sekaligus anak pemilik AAPI (Asrama Akademik Pebulutangkis Indonesia). Apalagi kalau yang lagi tanding Iqbal atau Tomy, bergegas dia memburu tiket dan menonton. Tomy dan Iqbal awalnya tak tau kalau dia adalah anak Pimpinan AAPI dan meraka punya rasa yang biasa saja dengan gadis cantik itu. Namun, entah mengapa Tuhan memberikan anugrah pada mereka dengan rasa cinta pada Azazah. Mungkin aja, sesama pebulutangkis saling
mengerti kesibukan masing-masing ketika harus tanding diberbeda daerah. Namun, mereka tak ada niat untuk memutuskan dan merusak persahabatan mereka, mereka punya suatu tekat bersama.
Siapa yang bisa mengikuti Kejurnas, dialah yang berhak mendekati Azizah.
Disinilah motivasi yang ada diantara mereka
Larutnya malam dan letih tubuh terasa masih ada,
sehabis mereka pulang latihan di GOR asrama mereka. Suasana itu, membawa mereka
dalam percakapan tentang perempuan cantik itu, Azizah. Setelah bergantian
mandi, Mereka berbaring dimasing-masing kasur mereka dalam satu kamar.
“Menurutmu azizah tuh gimana sih tom?” Tanya Iqbal.
“Ehmm... gimana ya? Jawab jujur atau bohong nih?
hahaha” Jawab Tomy tersenyum.
“Jujur dong tom, kita kan sahabatan so kalo bisa
kita saling terbuka” Iqbal menyela
“Haha oke deh mas atlet, dia sangat simpatik sama
kita, perhatian lagipula....”
“Lu nih lagipula apa sih? Huuu...”
“Udah ahh capek nih, tidur aja deh, dah ya..
Goodnight bro...”
“Huh gimana sih ni orang, hah semoga aja dia gak tau
kalo aku besok harus ke Pangkalpinang dan semoga aja Azizah ikut kesana juga”
Gerutu Iqbal.
(Padahal Tomy belum tidur dan dia mendengarkan
ucapan sahabatnya itu. Sedikit kesal dan dongkol dihatinya pada Iqbal karna tak
mau terbuka padanya.)
Keesokan harinya, tepat jam 7 pagi, ketika kumpul
bersama di GOR, Iqbal berpamitan pada semua anggota asrama. Tomy hanya
mengantarkan Iqbal dari kamar menuju GOR dan masalah tadi malem itu masih
nyesek dihati Tomy dan ia tinggalkan iqbal didepan pintu GOR. Tomy lebih baik
menenangkan dirinya di tempat biasa mereka berdua meluapkan segala isi hati
kedua sahabat itu, Pinggir danau belakang asrama.
“Saya mohon do’anya, saya akan berangkat ke
Pangkalpinang pagi ini bersama Azizah dan TIM” Harap Iqbal pada semuanya.
“Iya, semoga sukses disana ya mas bro...” Sahut si
Officeboy Asrama.
(Sebut saja Officeboy asrama itu Gandrung tapi
sering dipanggil Aru sih)
“iya makasih nggeh” Iqbal kebingungan. Dalam hati
iqbal dia kebingungan, sepertinya sahabatnya tadi pagi bersamanya menuju GOR
dan sekarang entah kemana. “Kemana ya si tomy?” Bertanya dalam hatinya.
Iqbal tak menggubris semua yang ada dihatinya, ia
pun berangkat ke Bandara menuju Pangkalpinang. Siang harinya, Pak Sigit si
Pimpinan Asrama mendapat surat Asean harus mengirim seorang pebulutangkais
handal Indonesia. Beliau bingung siapa yang harus diberangkatkan. Harapan pak
Sigit hanyalah Tomy. Beliau menghampiri Tomy dikelasnya.
“Permisi pak, saya mau bertemu Tomy” Izin Pak Sigit
pada guru kelas.
“Iya silahkan pak, Ayo Tom pak Sigit mau
ketemu kamu”
“Iya ada apa ya pak sigit?” Tanyanya dengan
keheranan.
“Gini tom, hari ini ada surat Asean untuk mengirim
satu pebulutangkis ke Bangkok ikut Perwakilan Indonesia. Kamu bersadia ikut?
Besok pagi kamu berangkat” Penjelasan dari Pak Sigit.
“Insyaallah saya bisa pak. Apa saja persyaratannya
pak?”
“Tenang saja saya urus semuannya, kamu tinggal
berangkat aja besok, yaudah belajar lagi sana. Makasih nak”
“Iya pak, terimakasih kembali”
Malam itu adalah malam terakhir Tomy di Indonesia,
tak sempat mengabari Iqbal. Bahkan Tomy tak enak hanti punya rasa dongkol
terhadapnya. Perpisahan jarak dan komunikasi pun terjadi lebih lama. Tenyata
disana, Tomy disekolahkan disalah satu SMA di Bangkok.
--))0((--
Tigapuluh hari dari kepergian Tomy ke Bangkok,
Iqbal membawa banyak hasil dan kado buat Tomy. Sesampainya di asrama tujuan
pertama adalah tomy. Sebagai sahabat, baginya tomy-lah seperti kakaknya
sendiri.
“Tomm..... Tomm.....” memanggil tomy dan menggedor
pintu kamar.
“Mas tomynya pergi mas broo” kata Aru.
“Pergi? Gak mungkin dia kan harus sekolah sekarang?
Aku ke kelas dulu ya mas nitip tasku tolong dimasukin ke kamar, makasih” Ucap
Iqbal sampil lari menuju kelas.
Sesampainya didepan
pintu, ia melihat bangku utama depan meja guru, ternyata kosong. Ia kembali ke
kamarnya dan duduk di ranjang milik Tomy. Disana ada sehelai kertas bertuliskan
Iqbal, maaf aku harus
pergi mungkin aku tak tau kapan aku kembali lagi. aku ke Bangkok, pesanku jaga
dek azizah dan tingkatkan prestasimu ya,
Wassalam.
Tomy Nofianto
. Terteteslah airmatanya ketika membaca sepucuk
kertas terakhir dari sahabatnya itu. Ia dapat memakluminya karena di asramanya
tak boleh satupun anggota asrama bawa hape, ya pakailah sehelai kertas
itu.
“Ini ujian buat kita tomm.. buat persahabatan kita,
gue akan tunggu lu balik ke Indonesia lagi” Tangis didalam hatinya.
Beberapa hari kemudian, ia merasa hidup sendiri
walau sekolah ada temen-temennya. Mungkin hati dia telah salud dengan Tomy tapi
ia tek rela kehilangan. Ia lakukan sendiri kegiatan dia tanpa seorang teman
dekat bahkan kakak disisinya.
--))o((--
Asrama AAPI,
Azizah sedang berjalan menyelusuri lorong menuju
kantor ayahnya. Disana ia banyak berfikir banyak tentang perasaannya.
“Ayah... Bolehkah Azizah masuk?”
“Iya nak, masuklah?”
“Yah, Azizah ingin bercerita sama ayah, tentang
semua yang Azizah rasakan yah.”
“Iya, ceritakan pada ayah nak.”
“Begini yah, Azizah suka sayang bahkan cinta sama
mas Tomy. Azizah bingung yah kenapa Azizah malah nyaman bersama mas Iqbal.
Azizah ndak tau lagi yah? Sekarang mas Tomy udah jauh ninggalin Azizah di sini.
Harapan Azizah dy bisa pulang ke Jogja lagi yah?”
“Ayah tak tau tentang hal itu, Ayah pikir kamu
suka, sayang dan cinta pada Iqbal? Karena kamu selalu nemenin dy ketika dia ada
tanding?”
“Iya memang aku nyaman dengan dia tapi entah hatiku
tak tertuju padanya?”
Usai perbincangan itu, Azizah masih meragu. Azizah
sering diajak Iqbal jalan-jalan ditaman, Gowes bareng temen-temen atlet, Dinner
bareng danlainnya. Hari itu berlalu, telah berganti tahun. Iqbal memberanikan
diri untuk mengungkapkan rasanya pada Azizah, tanpa sepengetahuan sahabatnya.
Ketika itu, ada latian yang biasa ia lakkukan tiap seminggu limakali, di GOR
belakang asrama. Malam itu Azizah dipertemukan dengan Iqbal di tempat itu.
Sehabis latihan, Iqbal menghampiri Azizah dan ngobrol bareng di tribun bawah.
“Zah, aku boleh ngomong sesuatu sama kamu?”
Tanyanya dengan canggung.
“Iya mas?!”
“Jujur ya, sebenernya aku suka sama kamu... aku
sayang kamu”
Iqbal lari kebawah dan teriak disana “Akuuuuu
sayaaaaaaang Azizaaaaaaaaaahhh.....” semua orang tercengang disana. Semua sorot
mata tertuju pada Iqbal. Dan Iqbal hanya tersenyum nyengir dihadapan semuanya.
Azizah tersenyum.
“Jadian... jadian... jadian... jadian...” Dukungan
teman asramanya.
“ah apaan sih kalian, hehe” sahut Azizah sambil
lari keluar pagar tribun menuju kebawah.
Azizah menghampiri iqbal dan berkata “Maaf aku tak
bisa...” kemudian Azizah pergi meninggalkannya ditengah lapangan sendirian.
Semua teman asrama kembali menuju asrama dan menikmati malam-malam mereka
bersama temen kamarnya. Sedangkan Iqbal, ditangal lapangan bulutangkis
sendirian dan merasakan perihnya ditolak cewe yang dia idamkan dan kehilangan
seorang sahabat yang pergi meninggalkannya.
Iqbal LULUS UN SMA, kemudian ia menjadi seorang
Altet dan hanya bisa manunggu Tomy pulang ke Jogja lagi. Iqbal melanjutkan
sekolah di UNY, Jurusan Kesehatan. Ia akan jadi guru Olahraga dan atlet.
Walaupun di Asrama ada juga yang perempuan, namun yak sedikitpun ia tertarik.
Azizah pun juga Kuliah di UGM, Kedokteran Umum.
--))O((--
Bangkok, Thailand
Anestya Rahmah. Tomy mengenalnya ketika ia
naik lift bersama di asrama tempet mereka sekolah bersama, cewe blasteran Indo
Singapur ini kiriman anak Olimpiade Matematika dari Singapura. Tomy merasa aneh
aja, ketika satu asrama dengan anak cerdas sepertinya. Tapi memang benar, dalam
satu lantai, ia mengenal teman dari Vietnam, Singapur dan Laos dan ia pikir
anak Indonesia hanya ada dia. Padahal dari negara lain ada beberapa Atlet dan
anak Olimpiade untuk perwakilan beberapa kontingen. Tomy satu kamar
dengan Gumsond, pemuda asal Vietnam seorang atlet judo. Badanya tinggi tegak,
kekar dan ternyata dia sangat ramah. Tomy temukan sahabat baru, itulah dia.
Tinggal 5hari lagi di Bangkok, Semua pererta diperbolehkan mengelilingi Bangkok
Sepuasnya.
“Tomy, if today you have plans? I happen to want
invites you walk together rahma? how?”
(apakah hari ini kamu ada acara? kebetulan aku
pengen ngajak kamu jalan-jalan sama rahma? gimana?) Sambil memakai baju hem
rapi dan keren.
“Oo Yeah .. I do not have plans to go today, I do
not know the tour here. Are we going?”
(Oo Yeah.. aku tidak ada rencana pergi hari ini,
aku tak tau wisata di sini. Memangnya kita mau kemana?) Tanya Tomy sambil
mematikan tv
“Yes, just walk alone. maybe we can while looking
for attractions?”
(Mungkin kita bisa sambil mencari dan sembari
berjalan-jalan?)
“Okay waiting for me? Hmm Have you let Rahma with
this?”
(Okay tunggu aku, hmm sudahkah kamu kabari rahma
dengan hal ini?) Tanya Tomy.
“Already. Includes change your clothes and be
prepared to keep us off” (Udah, buruan kamu ganti baju dan kita berangkat)
Kemudian mereka menunggu Rahma didepan FO Asrama.
Rencana mereka main bersama telah berjalan dihari itu. Setelah yang mereka
tunggu datang, mereka memulai perjalanan mereka mengelilingi Bangkok.
Senang dan seru mereka rasakan bersama. Dengan bidikan karena mereka
jadikan kenang-kenangan pengalaman mereka.
Tomy merasakan adanya ketidaksanggupan untuk
meninggalkan itu semua karna telah cukup lama bersama orang-orang terkasihnya.
Hari terakhir, semua peserta diminta untuk foto bersama, yaa untuk
kenang-kenangan. Dan dihari terakhir itu ia merasakan bahwa dihatinya ada rasa
terhadap Rahma. Tak disangka ketika Tomy akan menuju lift ketemu Rahma lagi.
“Mungkinkah? Ini hari terakhir aku ketemu kamu?”
“Mungkin iya Tom?” Heran Rahma.
“Tapi...?”
“Tapi apa tom??” Heran Rahma lagi.
“Sudahlah tak apa. Oh iya nanti sebelum kita menuju
bandara, kita ketemu di phafilium atas ya. Ada yang mau aku omongin ke kamu
maa” Harap Tomy.
“Iya tom aku temui nanti... tapi mengapa haris
disana?”
“Ahh sudah nanti kita disana, ayo kita sudah telat”
Waktu makin menunjukan pukul 8malam, dan waktu
mereka pulang jam 10malam setelah makan malam. Tomy menuju Lift dan kelantai
atas. Rahma pun juga.
“Rahma....”
“Iya Tomm...”
“Aku mau ngomong sama kamu”
“Iya ngomong aja” Jawab rahma dengan menundukan
kepalanya.
“Rahma, selama 8tahun kita disini , kita kenal,
saling mengerti dan aku ada salah sama kamu aku minta maaf ya? Dengan
kata mau pun perbuatan.”
“Iya tom, sama sama ya, akupun begitu.
Aku rasa aku tak ingin berpisah dengan ini.”
“Yaaa benar... aku tak sanggup kita
berpisah, aku tak sanggup. Karna aku sayang dan karna aku cinta padamu Rahma.”
Tercengang Rahma mendengar perkataan Tomy. Rahma
hanya tersenyum dan menatap mata Tomy.
“Rahma, tolong jawab, apakah kamu juga menyayangi
dan mencintaiku?”
Rahma hanya bisa tersenyum dan menganggukan kepala.
Tomy memeluknya dan hatinya terasa lega. Tak ada dipikiran dia bahwa beberapa
jam lagi mereka harus berpisah. Waktu menunjukan pukul 10malam, semua peserta
dilepaskan menyandang S3 cumload dari Asrama tersebut. Tomy berpisah dengan
Gumsond dan salam persahabatan dengannya. Ternyata Tomy dan Rahma satu perawat
yang akan landing di Indonesia tepatnya di Jogja. Mereka duduk berdua.
“Tom, bolehkah aku ikut ke asramamu di Jogja?”
“Apa? Kamu mau ikut kesana? Boleh saja.”
“Yess... aku akan ikut tinggal disana.”
Rahma dan Tomy sudah sah berpacaran, dan Tomy
berencana akan melamar Rahma di Asrama. Tapi masih perlu pertimbangan orangtua
Rahma di Singapur. Sesampainya di Indonesia, Rahma dibawa ke Asrama AAPI dengan
seizin Ayahnya Azizah. Tapi tak ada seorangpun yang tau kalau itu
pacarnya Tomy.
--))O((--
Asrama AAPI, Jogja.
Keesokan harinya, Hari Rabu itu adalah tepat 8tahun
Tomy meninggalkan Indonesia untuk di Bangkok. Iqbal hanya mampu meratapi
kesendiriannya dengan danau belakang asrama itu. Itu tampat kenangan dimana
mareka berdua selalu mencurahkan semua hatinya. Dan Iqbal selalu membaca surat
dari Tomy itu.
“hmm... hmm... hmm... ngapain mas bro disini??”
Sahut Tomy dengan nada OB yang biasa dengan Iqbal.
Pandangan Iqbal masih kedepan menuju danau, tak
mengubris dibelakangnya. “Gak tau mas ini, aku udah kehilangan semuanya ni
kayaknya.”
“Memang siapa masbroo?”
“Ya Dek Azizah too sama sii Tomy. Siapa lagi kalo
bukan mereka yang tak miliki.”
“Oooo... Aku tho masbro?”
“bukan...” Iqbal menjawab dan menengok.
“Kangen ndak kau ma aku, hahaha” Tanya Tomy dengan
mendekati dan memeluknya.
“Heh kau, tak sopan laa yaa pura-puraa”
“Haha pembukaan dong gakpapa kan?” sahut Tomy.
Sembari mereka berbincang-bincang dijalan menuju
kamar mereka, Iqbal bercerita apa saja yang terjadi ketika Tomy tak di
Indonesia. Tomy hanya diam dan menjawab sekedarnya saja ketika Iqbal panjang
lebar menceritakan kisahnya dengan Dek Azizah.
“Broo.. aku kemaren sempet menyatakan perasaanku ke
dek Azizah, tapi dia nokal gak mau menjalin hubungan sama aku. Aku kurang apa
sih? Menurutmu gimana bro?” Curcol Iqbal padanya.
“Mungkin di malu sama kamu?” singkat Tomy.
“Hah malu kenapa? Tiap aku ada tanding, dia selalu
sama aku waktu di Pangkalpinang?”
“Hmm entah tak tau aku? Aku mandi dulu yaa broo...
bauk nih?”
“Kebiasaan lu tom.. kalo masalah cewe cuek banget?”
Gerutu Iqbal ditinggal Tomy mandi.
Tiba waktu malam hari, disana diadakan pesta
penyambutan kedatangan Tomy. Bisa dibilang meriah dan unik lah. Biasanya kalau
ada pesta kebun kayak gitu pakaiannya kan menyesuaikan, tapi ini beda.
Pakaiannya pakaian Jawa seperti mau ada hajatan. Ketika itu si Iqbal ketemu
sama Aru yang biasa ngelayanin kebutuhan dia.
“Kok modelnya baju kayak gini semua sih? Apa-apaan
ini? Adaa apa ini?” Tanyanya.
“hahaha masbroo ndak tau tho?”
“Tau tentang apa?”
“lihat saja nanti masbroo....”
Acara itu kini
dimulai, Pak Pemilik Asrama AAPI yang memulai acara itu. Tomy kemudian mengajak
Rahma kedepan dan memperkenalkannya kepada semua hadirin.
“Selamat malam, ini Rahma calon Istri saya sekarang
saya beranikan diri untuk melamarnya. Dan yang disana adalah Papa Mama dari
Rahma.”
“Saya Anestya
Rahmah, Saya Calon istrinya Tomy.”
“Hah apaaaa....!!!” Azizah terkejut. Lari dan
menangis menuju danau. Kemudian disusul oleh Iqbal.
“Sudah dek, tak usah menangis. Mungkin adek
mencintainya tapi apabila mereka lebih bahagia bukanlah adek juga akan bahagia
melihat mereka bahagia dengan cinta mereka?” Bujuk Iqbal.
“Iya sih mas, tapi ini gak adil. Aku udah nunggu
delapan tahun bersama kenyamannan mas tapi apa hasilnya? menyakitkan” Tangis
Azizah.
Malam itu Rahma telah dilamar oleh Tomy dan segera
melangsungkan pernikahan. Hari berganti namun sakit makin menyayat hati. Azizah
mulai belajar untuk mencintai Iqbal dengan tulus sebagai mana Iqbal
mencintainya.
3Minggu Kemudian...
Tepat dimoment yang sama, Rahma dan Tomy menikah
dan Iqbal melamar Azizah. Sampai sekarang mereka saling menyayangi. Saling
membangun kasih sayang yang begitu kokoh. Tomy mempunyai usaha dan banyak saham
serta perusahaan Sawit di Sumatra. Tomy meninggalkan Jogja dan membentuk
keliarga kecil dengaan 2 orang anak. Sedangkan Iqbal dan Azizah akan
melangsungkan pernikahan dan pindah ke Pangkalpinang. Semoga hidup mereka akan
manjadi bahagia dan penuh cinta. J
“Hanya
meminjam nama, bukan berarti ini berharap menjadi nyata.”






0 comments:
Post a Comment